KETIKA BEL PULANG BERBUNYI: SIAPA YANG MELANJUTKAN PENDIDIKAN ANAK?

Abstrak

Pendidikan murid tidak berlangsung hanya selama proses pembelajaran di sekolah, tetapi berlanjut dalam keluarga dan lingkungan sosial. Sekolah melalui guru berperan menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, sedangkan keluarga memberikan penguatan melalui keteladanan, pembiasaan, dukungan, dan pengawasan. Artikel ini membahas hubungan antara proses pembelajaran di sekolah dan keterlibatan orang tua di rumah dalam menumbuhkan minat belajar sekaligus membentuk adab murid. Kajian literatur menunjukkan bahwa minat belajar berkembang secara bertahap melalui pengalaman yang mampu membangkitkan perhatian dan memberikan makna bagi murid. Di sisi lain, berbagai penelitian meta-analisis menunjukkan hubungan positif antara keterlibatan orang tua dengan motivasi dan capaian akademik, meskipun pengaruhnya dipengaruhi oleh bentuk dan kualitas keterlibatan tersebut. Keterlibatan yang mendukung kemandirian murid lebih konstruktif dibandingkan keterlibatan yang bersifat mengontrol. Dalam pembentukan adab, sekolah dan keluarga perlu menghadirkan keteladanan serta pembiasaan yang konsisten. Bagi pendidikan kejuruan, sinergi tersebut menjadi semakin penting karena murid tidak hanya dipersiapkan memiliki kompetensi teknis, tetapi juga karakter, tanggung jawab, disiplin, kemampuan bekerja sama, dan integritas. Oleh karena itu, kemitraan sekolah dan keluarga perlu bergeser dari pola hubungan yang reaktif—yang hanya muncul ketika murid bermasalah—menuju kemitraan yang proaktif dan berorientasi pada perkembangan anak.

Kata kunci: minat belajar, keterlibatan orang tua, motivasi belajar, adab, pendidikan karakter, sekolah dan keluarga, SMK

Pendahuluan

Ketika bel sekolah berbunyi, proses pembelajaran formal di sekolah berakhir. murid meninggalkan ruang kelas dan kembali ke rumah. Namun, apakah pendidikan mereka juga berhenti?

Jawabannya tentu tidak.

Di rumah, murid kembali berhadapan dengan lingkungan pendidikan yang tidak kalah penting. Mereka berinteraksi dengan orang tua, menggunakan gawai, bermain gim, mengakses media sosial, berkomunikasi dengan teman, menyelesaikan tugas, menghadapi konflik, serta menyaksikan bagaimana orang dewasa di sekitarnya berbicara dan bertindak. Semua pengalaman tersebut ikut membentuk cara mereka memandang belajar, bekerja, bertanggung jawab, dan memperlakukan orang lain.

Karena itu, pendidikan tidak seharusnya dipahami sebagai aktivitas yang hanya berlangsung di sekolah. Pendidikan merupakan proses berkesinambungan yang melibatkan sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika sekolah menghadapi berbagai tantangan murid, seperti rendahnya minat belajar, penggunaan gawai yang berlebihan, ketergantungan terhadap gim, rendahnya disiplin, kesulitan mengendalikan diri, serta persoalan etika dalam penggunaan media sosial.

Dalam situasi tersebut, sekolah sering kali berharap orang tua dapat memperkuat pendidikan di rumah. Sebaliknya, sebagian orang tua menyerahkan persoalan pendidikan kepada sekolah karena menganggap bahwa sekolah merupakan institusi yang bertanggung jawab terhadap pembelajaran anak.

Padahal, sekolah dan keluarga bukan dua institusi yang saling menggantikan. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi.

Pertanyaan yang lebih tepat bukanlah siapa yang paling bertanggung jawab terhadap pendidikan anak, melainkan bagaimana sekolah dan keluarga dapat membangun ekosistem yang memungkinkan minat belajar tumbuh dan adab berkembang secara konsisten.

Persoalan ini menjadi semakin strategis bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). murid SMK tidak hanya dipersiapkan untuk memperoleh nilai akademik, tetapi juga untuk memiliki kompetensi yang relevan dengan dunia kerja. Dunia kerja membutuhkan tenaga yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga disiplin, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, dapat berkomunikasi, mau belajar, dan dapat dipercaya.

Dengan demikian, pembentukan kompetensi dan adab tidak seharusnya dipisahkan.

Minat Belajar Harus Ditumbuhkan, Bukan Sekadar Diperintahkan

Salah satu persoalan yang sering dihadapi sekolah adalah rendahnya minat belajar murid. Ketika seorang murid tidak bersemangat mengikuti pembelajaran, respons yang muncul sering kali berupa nasihat agar mereka lebih rajin belajar.

Namun, minat belajar tidak sesederhana kepatuhan terhadap perintah.

Hidi dan Renninger (2006) melalui Four-Phase Model of Interest Development menjelaskan bahwa minat berkembang secara bertahap. Minat dapat dimulai dari ketertarikan yang dipicu oleh situasi, kemudian berkembang menjadi ketertarikan yang lebih stabil dan akhirnya menjadi minat individual yang relatif kuat.

Perspektif tersebut memberikan pesan penting bagi pendidik: murid yang belum menunjukkan minat terhadap suatu pelajaran belum tentu merupakan murid yang tidak mampu belajar.

Bisa jadi mereka belum menemukan makna dari apa yang sedang dipelajari.

Dalam konteks SMK, pembelajaran yang memberikan hubungan jelas antara materi dengan dunia nyata dapat membantu murid memahami alasan mengapa suatu kompetensi penting untuk dipelajari.

Siswa bidang teknologi informasi, misalnya, mungkin tidak langsung tertarik pada konsep jaringan komputer yang abstrak. Namun, ketika guru mengaitkannya dengan kebutuhan jaringan di perusahaan, keamanan siber, pengelolaan server, peluang pekerjaan, atau pengembangan usaha, pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Dengan demikian, tugas guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga membantu murid menemukan jawaban atas pertanyaan:

"Mengapa saya perlu mempelajari ini?"

Ketika murid menemukan makna, perhatian dan keterlibatan dalam pembelajaran memiliki peluang untuk berkembang.

Keterlibatan Orang Tua dan Motivasi Belajar Murid

Jika sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan pengalaman belajar, keluarga berperan dalam memberikan penguatan terhadap pengalaman tersebut.

Berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan antara keterlibatan orang tua dengan capaian dan motivasi akademik murid.

Castro dkk. (2015), melalui meta-analisis terhadap 37 penelitian, menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua memiliki hubungan positif dengan pencapaian akademik. Bentuk keterlibatan tertentu, seperti harapan akademik orang tua, komunikasi mengenai kegiatan sekolah, dan kebiasaan membaca, menunjukkan hubungan yang lebih berarti dengan pencapaian murid.

Temuan tersebut diperkuat oleh Kim (2022) melalui second-order meta-analysis yang mencakup 23 meta-analisis dan 1.177 penelitian primer. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara keterlibatan orang tua dan prestasi akademik. Menariknya, harapan dan aspirasi orang tua memiliki hubungan yang lebih kuat dibandingkan sekadar membantu anak mengerjakan pekerjaan rumah.

Hal ini memberikan perspektif penting mengenai makna keterlibatan orang tua. Orang tua tidak harus menjadi guru bagi anak di rumah. Orang tua juga tidak harus menguasai seluruh materi yang dipelajari anak. Yang jauh lebih penting adalah membangun keyakinan bahwa belajar merupakan sesuatu yang bernilai.

Kalimat sederhana seperti:

"Ayah dan Ibu percaya kamu mampu."
"Kalau belum bisa, jangan menyerah."
"Mari kita cari tahu bersama."

dapat menjadi bentuk dukungan psikologis yang berarti.

Dengan demikian, keterlibatan orang tua tidak selalu berarti membantu menyelesaikan soal atau mengawasi setiap tugas. Keterlibatan dapat berupa memberikan harapan, mendengarkan pengalaman anak di sekolah, menciptakan rutinitas belajar, menyediakan lingkungan yang kondusif, dan memberikan dukungan ketika anak menghadapi kesulitan.

Mendampingi Anak Tidak Sama dengan Mengendalikan Anak

Keterlibatan orang tua memang penting, tetapi bentuk keterlibatan tersebut perlu diperhatikan.

Özyıldırım (2024), melalui meta-analisis terhadap 37 penelitian yang melibatkan 45.428 murid, menemukan hubungan positif antara keterlibatan orang tua dan motivasi akademik. Namun, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa bentuk keterlibatan dan konteks keterlibatan merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan.

Dalam perspektif Self-Determination Theory, dukungan terhadap kebutuhan psikologis anak, termasuk dukungan terhadap kemandirian, memiliki arti penting bagi motivasi belajar.

Dengan demikian, terdapat perbedaan antara mendampingi dan mengendalikan.

Orang tua yang mendampingi akan bertanya:

"Apa yang membuat kamu kesulitan?"
"Bagaimana menurutmu cara menyelesaikannya?"
"Apa yang bisa kami bantu?"

Sementara pendekatan yang terlalu mengontrol cenderung berorientasi pada perintah:

"Kamu harus belajar sekarang."
"Nilaimu harus tinggi."
"Kalau tidak belajar, HP disita."

Keduanya sama-sama dapat muncul dari niat baik. Namun, tujuan pendidikan seharusnya bukan membuat murid hanya belajar ketika diawasi.

Tujuan yang lebih jauh adalah membangun kemandirian belajar.

murid perlu sampai pada tahap ketika mereka mampu mengatakan:

"Saya belajar karena saya memahami bahwa belajar penting bagi masa depan saya."

Dengan demikian, peran orang tua secara bertahap perlu bergeser dari pengawasan menuju pendampingan dan dari kontrol menuju pembentukan kemandirian.

Adab Tidak Cukup Diajarkan, tetapi Harus Dihidupkan

Pembicaraan mengenai pendidikan tidak dapat berhenti pada minat dan prestasi akademik. Pendidikan juga berkaitan dengan pembentukan karakter dan adab.

Adab dapat diwujudkan dalam perilaku konkret: menghormati guru, menghargai teman, mampu mendengarkan, datang tepat waktu, menjaga kebersihan, jujur, bertanggung jawab, mampu mengendalikan emosi, menggunakan media sosial secara bijak, serta mampu menerima koreksi.

Persoalannya, adab tidak dapat dibangun hanya melalui nasihat. murid tidak hanya mendengar apa yang dikatakan orang dewasa. Mereka juga mengamati apa yang dilakukan orang dewasa. Ketika sekolah mengajarkan penghormatan kepada guru, tetapi murid mendengar orang dewasa merendahkan guru di rumah, maka terdapat ketidakkonsistenan pesan pendidikan. Ketika sekolah mengajarkan pengendalian penggunaan gawai, tetapi orang tua sendiri tidak memiliki batas penggunaan gawai, anak mendapatkan contoh yang berbeda.

Karena itu, pendidikan adab membutuhkan keteladanan, pembiasaan, komunikasi, dan konsistensi.

Dalam konteks ini, rumah memiliki peran yang sangat strategis. Sekolah dapat mengajarkan disiplin, tetapi rumah memberikan kesempatan untuk membiasakannya. Sekolah mengajarkan tanggung jawab, tetapi rumah memberikan ruang bagi anak untuk bertanggung jawab.

Sekolah mengajarkan penghormatan, tetapi rumah menunjukkan bagaimana penghormatan itu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika Bel Pulang Berbunyi: Sebuah Ilustrasi di SMK

Bayangkan seorang murid SMK bernama Raka.

Raka memiliki kemampuan praktik yang baik. Ketika mengikuti pembelajaran produktif, ia cepat memahami instruksi dan mampu menyelesaikan pekerjaan dengan hasil memuaskan.

Namun, Raka memiliki persoalan disiplin. Ia sering terlambat, mengantuk di kelas, tidak menyelesaikan tugas teori, dan menghabiskan waktu malam untuk bermain gim.

Jika persoalan tersebut hanya dilihat sebagai "kemalasan", penyelesaiannya mungkin berupa teguran dan hukuman.

Namun, sekolah dapat menggunakan pendekatan yang berbeda.

Guru produktif dapat terlebih dahulu menggali minat Raka:
"Kamu sebenarnya tertarik dengan bidang ini?"

Raka mungkin menjawab:
"Saya suka komputer dan ingin bekerja di bidang IT."

Dari sana, guru dapat membantu Raka melihat hubungan antara kebiasaan belajarnya sekarang dan cita-citanya di masa depan.

Sekolah kemudian melibatkan orang tua bukan hanya untuk "mengawasi anak", tetapi untuk membangun kesepakatan mengenai waktu tidur, penggunaan gim, waktu belajar, target mingguan, dan evaluasi perkembangan.

Guru memberikan penguatan ketika terjadi kemajuan. Orang tua melakukan penguatan di rumah. Raka secara perlahan belajar mengatur dirinya sendiri.

Ilustrasi ini menunjukkan bahwa persoalan murid tidak selalu cukup diselesaikan dengan teguran.

Kadang-kadang anak membutuhkan orang dewasa yang membantu menghubungkan perilakunya hari ini dengan masa depannya.

Dari Hubungan Berbasis Masalah Menuju Kemitraan Berbasis Perkembangan

Salah satu tantangan dalam hubungan sekolah dan orang tua adalah pola komunikasi yang terlalu reaktif.

Orang tua biasanya dihubungi ketika anak bermasalah:

anak membolos, orang tua dipanggil;
anak berkelahi, orang tua dipanggil;
nilai menurun, orang tua dipanggil;
terjadi masalah di media sosial, orang tua dipanggil.

Pola seperti ini dapat membuat komunikasi antara sekolah dan orang tua selalu diasosiasikan dengan masalah.

Padahal, hubungan sekolah dan keluarga seharusnya tidak hanya dibangun ketika murid melakukan kesalahan.

Sekolah juga perlu menghubungi orang tua ketika anak menunjukkan perkembangan positif.

"Kami melihat anak Bapak/Ibu mulai menunjukkan kedisiplinan yang baik."
"Kami melihat anak Bapak/Ibu memiliki minat yang kuat pada bidang desain."
"Hari ini anak Bapak/Ibu menunjukkan tanggung jawab yang sangat baik dalam kegiatan praktik."

Komunikasi positif semacam ini dapat membangun kepercayaan antara sekolah dan keluarga.

Dengan demikian, hubungan sekolah dan orang tua dapat berubah dari hubungan berbasis masalah menjadi kemitraan berbasis perkembangan anak.

Implikasi bagi Pengelolaan Sekolah

Jika sekolah ingin membangun sinergi dengan orang tua, terdapat beberapa langkah praktis yang dapat dikembangkan.

1. Membangun komunikasi yang berkelanjutan

Komunikasi tidak hanya dilakukan ketika murid bermasalah. Sekolah perlu menyediakan mekanisme komunikasi yang memungkinkan orang tua memperoleh informasi mengenai perkembangan akademik maupun karakter anak.

2. Menyusun kesepakatan sederhana tentang kehidupan digital

Sekolah bersama orang tua dapat membahas penggunaan gawai, gim, media sosial, waktu tidur, serta etika digital. Fokusnya bukan sekadar pelarangan, tetapi membangun kemampuan murid mengendalikan diri.

3. Mengembangkan pembelajaran yang kontekstual

Guru perlu membantu murid melihat hubungan antara pembelajaran dengan kehidupan nyata, dunia kerja, dan masa depan mereka.

4. Memberikan ruang bagi orang tua untuk berpartisipasi

Keterlibatan orang tua tidak harus selalu dalam bentuk menghadiri rapat. Orang tua dapat berbagi pengalaman profesi, menjadi narasumber, mendukung proyek murid, atau memberikan penguatan di rumah.

5. Mengembangkan budaya apresiasi

Sekolah perlu memberikan apresiasi terhadap perubahan positif murid, bukan hanya memberikan perhatian ketika terjadi pelanggaran.

6. Menyamakan pesan pendidikan antara sekolah dan rumah

Nilai seperti disiplin, kejujuran, tanggung jawab, penghormatan, dan pengendalian diri akan lebih mudah tumbuh apabila sekolah dan keluarga memberikan pesan yang konsisten.

Pendidikan SMK: Kompeten dan Dapat Dipercaya

Bagi pendidikan kejuruan, hubungan antara kompetensi dan adab memiliki arti khusus.

Dunia kerja membutuhkan manusia yang mampu melakukan pekerjaan dengan benar. Namun, dunia kerja juga membutuhkan manusia yang dapat dipercaya.

Seorang teknisi harus memiliki keterampilan teknis, tetapi juga harus bertanggung jawab. Seorang programmer harus menguasai teknologi, tetapi juga harus memiliki etika. Seorang tenaga administrasi harus mampu bekerja secara profesional, tetapi juga harus menjaga integritas. Seorang wirausahawan harus memiliki kemampuan bisnis, tetapi juga harus mampu membangun kepercayaan.

Karena itu, tujuan pendidikan SMK tidak cukup dirumuskan sebagai:

"murid memiliki kompetensi."

Tujuan tersebut perlu dilengkapi dengan:

"murid memiliki kompetensi, karakter, dan integritas sehingga mampu menjadi pribadi yang dapat dipercaya."

Di sinilah pembelajaran dan pendidikan keluarga bertemu.
Sekolah membangun kompetensi, keluarga menguatkan kebiasaan dan keduanya membangun karakter.

Kesimpulan

Minat belajar dan adab murid tidak tumbuh melalui satu program atau satu pihak. Keduanya berkembang melalui pengalaman yang berulang, lingkungan yang mendukung, keteladanan, pembiasaan, serta hubungan yang konsisten antara sekolah dan keluarga.

Kajian penelitian menunjukkan bahwa minat dapat berkembang melalui pengalaman belajar yang bermakna, sedangkan keterlibatan orang tua memiliki hubungan positif dengan motivasi dan pencapaian akademik. Namun, kualitas keterlibatan menjadi faktor penting. Keterlibatan yang mendukung kemandirian murid lebih sesuai dengan tujuan pendidikan dibandingkan keterlibatan yang semata-mata mengontrol.

Dalam pembentukan adab, sekolah dan keluarga perlu bergerak dalam arah yang sama. Sekolah mengajarkan nilai, keluarga memberikan keteladanan dan pembiasaan, sementara murid diberi ruang untuk mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, sekolah perlu mengubah cara pandang terhadap kemitraan dengan orang tua. Orang tua tidak seharusnya hanya dihadirkan ketika murid bermasalah. Mereka perlu dilibatkan sebagai mitra dalam proses perkembangan anak.

Pada akhirnya, bel pulang bukanlah akhir pendidikan. 
Bel pulang hanyalah perpindahan tempat pendidikan dari sekolah menuju rumah.
Di sekolah, guru menyalakan rasa ingin tahu.
Di rumah, orang tua menjaga agar rasa ingin tahu itu tidak padam.
Di sekolah, murid belajar pengetahuan dan keterampilan.
Di rumah, mereka belajar menerapkannya dalam kehidupan.
Di sekolah, mereka belajar tentang disiplin dan tanggung jawab.
Di rumah, mereka belajar membiasakannya.

Dan pada akhirnya, pendidikan yang berhasil bukanlah pendidikan yang membuat anak selalu patuh ketika diawasi, melainkan pendidikan yang membantu anak memiliki kesadaran untuk melakukan yang baik meskipun tidak sedang diawasi.

Kita tidak hanya ingin melahirkan anak yang pintar. Kita ingin melahirkan manusia yang mau belajar, mampu mengendalikan diri, menghormati orang lain, bertanggung jawab, memiliki kompetensi, dan dapat dipercaya.

Untuk mewujudkan itu, sekolah tidak dapat berjalan sendirian. Orang tua juga tidak dapat berjalan sendirian.

Sekolah dan keluarga harus berdiri di sisi yang sama: di sisi tumbuh kembang anak

COMMENTS

Nama

Design dan Animasi,2,Ekstrakurikuler,17,Fasilitas,3,Futsal,1,Galeri,21,Info Jurusan,18,Info Sarpras,1,jaringan,2,Kegiatan Akademik,36,Kegiatan Ekstrakurikuler,27,Kegiatan Sekolah,89,kerjasama,20,MathClub,1,Olahraga,2,osis,2,passus,1,Pengumuman,27,perpustakaan,5,Pramuka,4,Prestasi,11,Prestasi Akademik,19,Prestasi Ekstrakurikuler,21,Prestasi Sekolah,17,Prestasi Siswa,40,Seni Tari,6,Seni Teater,3,smk labor,147,Studio Seni,2,Tamu Kita,33,Tari,4,Teater,1,Web Design,4,
ltr
item
SMK Labor Binaan FKIP Unri Pekanbaru Official: KETIKA BEL PULANG BERBUNYI: SIAPA YANG MELANJUTKAN PENDIDIKAN ANAK?
KETIKA BEL PULANG BERBUNYI: SIAPA YANG MELANJUTKAN PENDIDIKAN ANAK?
Pelibatan orang tua, bel pulang, jadwal murid disekolah
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPMWfhcrKGXu5nl-gA4h5etW_lY5KDZ8yFh5EGC2WwEffF53RkiJDRS8W-J2b14Ww4IGtUWKq_kQDWb-Zg6QvTPXtXeyfttrfME5DACd9FU-OIlD1C12zz0seS4DGqV-tWkf2hpE9mkynlXZA7oifXqE-hpwkmBhF-crmrJY670HU80_5txKdRr6Y6GQ/w644-h430/ChatGPT%20Image%2029%20Sep%202026,%2013.31.06.png
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPMWfhcrKGXu5nl-gA4h5etW_lY5KDZ8yFh5EGC2WwEffF53RkiJDRS8W-J2b14Ww4IGtUWKq_kQDWb-Zg6QvTPXtXeyfttrfME5DACd9FU-OIlD1C12zz0seS4DGqV-tWkf2hpE9mkynlXZA7oifXqE-hpwkmBhF-crmrJY670HU80_5txKdRr6Y6GQ/s72-w644-c-h430/ChatGPT%20Image%2029%20Sep%202026,%2013.31.06.png
SMK Labor Binaan FKIP Unri Pekanbaru Official
https://www.smklabor.sch.id/2026/09/ketika-bel-pulang-berbunyi-siapa-yang.html
https://www.smklabor.sch.id/
https://www.smklabor.sch.id/
https://www.smklabor.sch.id/2026/09/ketika-bel-pulang-berbunyi-siapa-yang.html
true
4776146355546900738
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy